FKP dengan tuan rumah The SMERU Research Institute dengan narasumber Ana Rosidha Tamyis (Peneliti Senior SMERU), Nurmala Selly Saputri (Peneliti SMERU), Ahmad Arif (Co-leads Lapor COVID-19), dan Nida Rohmawati (Koordinator Kesehatan Maternal dan Neonatal, Direktorat Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan). Selasa, 19 Oktober 2021.

KEY POINTS:

  1. Rumah tangga baru sebatas melakukan strategi koping (coping strategy) jangka pendek dan belum mengarah pada strategi adaptasi jangka panjang. Koping yang dilakukan rumah tangga masih berupa respons cepat dan bersifat sementara terhadap perubahan dan dampak pandemi. Selain itu, capaian layanan kesehatan ibu, bayi, dan balita mengalami penurunan sekitar 6 bulan pertama pandemi COVID-19. Berbagai faktor masih menghambat upaya inovasi layanan gizi dan kesehatan ibu dan anak (KIA), salah satunya adalah rendahnya kesadaran ibu untuk mengakses layanan gizi dan KIA.
  2. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan penanganan pandemi yang koheren antar dan di setiap level pemerintahan. Selain itu, strategi komunikasi khusus untuk memperdalam pemahaman ibu dan lingkungan pendukungnya mengenai COVID-19 serta layanan gizi dan KIA perlu dirumuskan. Upaya untuk terus memperluas layanan kesehatan tetap perlu dilakukan, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas. Layanan telemedicine juga dapat menjadi solusi jangka panjang.

 

SUMMARY

  1. Setelah lebih dari setahun pandemi, persepsi masyarakat mengenai risiko pandemi COVID-19 dan kesiapan pelayanan gizi dan kesehatan ibu dan anak (KIA) telah mengalami perubahan. Masyarakat mulai beradaptasi dengan situasi pandemi dan hal ini mempengaruhi ketangguhan dan strategi mereka untuk meminimalkan dampaknya. Begitu pula halnya dengan penyedia layanan kesehatan, termasuk layanan gizi dan KIA, yang terus mengembangkan inovasi dengan berbagai penyesuaian selama pandemi. 
  2. Ana Rosidha Tamyis, peneliti senior SMERU, menjelaskan studi yang dilakukan oleh SMERU tentang ketangguhan sosial budaya masyarakat rentan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Studi tersebut menemukan bahwa pandemi tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi dan kesehatan, tetapi juga hubungan dalam rumah tangga dan hubungan antara rumah tangga dengan masyarakat. Untuk mengatasinya, rumah tangga dan masyarakat melakukan berbagai strategi koping/adaptasi (coping strategy), baik yang berfokus pada penyelesaian masalah maupun pengendalian emosi. Sayangnya, rumah tangga baru sebatas melakukan koping jangka pendek dan belum mengarah pada strategi adaptasi jangka panjang. Koping yang dilakukan rumah tangga masih berupa respons cepat dan bersifat sementara terhadap perubahan dan dampak pandemi. 
  3. Studi ini merekomendasikan agar pemerintah memperkuat kebijakan penanganan pandemi yang koheren antar dan di setiap level pemerintahan, sehingga dapat konsisten dalam pelaksanaannya dan responsif terhadap perubahan dampak pandemi yang dialami masyarakat. Proses membangun ketangguhan masyarakat rentan pada masa pandemi COVID-19 masih panjang dan menghadapi berbagai tantangan, sementara itu kolaborasi multipihak sangat diperlukan untuk mendukung proses pembentukan ketangguhan masyarakat.
  4. Selain itu, persepsi risiko masyarakat perlu diperkuat melalui komunikasi risiko yang efektif. Selama lebih dari satu tahun pandemi, persepsi risiko masyarakat terhadap penularan COVID-19 berubah-ubah dan cenderung menurun. Komunikasi risiko yang efektif dapat menjadi jalan mengatasi rasa aman semu yang muncul di masyarakat sekaligus membangun perilaku adaptif terhadap protokol kesehatan secara berkelanjutan dan konsisten. 
  5. Penyedia layanan kesehatan, termasuk layanan gizi dan KIA, juga melakukan adaptasi dalam memberikan layanan selama pandemi. Kesiapan inovasi layanan gizi dan KIA berpengaruh besar terhadap kemampuan ibu untuk memanfaatkan layanan tersebut. Nurmala Selly Saputri, peneliti SMERU, menjelaskan studi tentang pelayanan gizi dan KIA selama pandemi COVID-19. Studi tersebut menunjukkan bahwa capaian layanan kesehatan ibu, bayi, dan balita sempat menurun sekitar 6 bulan pertama pandemi COVID-19. Pemerintah daerah kemudian menerapkan berbagai inovasi, antara lain memperbanyak kunjungan rumah hingga memanfaatkan akses internet untuk layanan daring. Namun, masih banyak faktor yang menghambat upaya inovasi layanan gizi dan KIA, salah satunya adalah rendahnya kesadaran ibu untuk mengakses layanan gizi dan KIA. Pemerintah perlu merumuskan strategi komunikasi khusus untuk memperdalam pemahaman ibu dan lingkungan pendukungnya mengenai COVID-19 serta layanan gizi dan KIA.
  6. Selain itu, upaya untuk terus memperluas layanan kesehatan tetap perlu dilakukan, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas. Upaya yang dapat dilakukan adalah terus meningkatkan sebaran tenaga kesehatan, mengoptimalkan program rumah tunggu, memperluas cakupan kepersertaan Progam JKN, dan menambah kemitraan BPJS-Kesehatan dengan fasilitas kesehatan swasta. 
  7. Layanan telemedicine (pengobatan jarak jauh) juga dapat menjadi solusi jangka panjang atas permasalahan struktural dan permasalahan yang muncul akibat pandemi. Di tengah pandemi, ketakutan akan kemungkinan terpapar COVID-19 menjadi penghambat masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan. Masalah ini teridentifikasi menyebabkan tertundanya layanan kesehatan yang seharusnya segera diterima ibu dan balita. Sistem telemedicine dapat menjadi salah satu inovasi untuk membantu mengatasi permasalahan keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan.
Download slides (Ana Rosidha Tamyis)
Download slides (Nida Rohmawati)
Download slides (Nurmala Selly Saputri)