FKP dengan tuan rumah Center For Indonesian Policy Studies (CIPS) Rabu, 15 Oktober 2025 dengan Pembicara Jimmy Daniel Berlianto (Center for Indonesia Policy Studies / CIPS), Rahmawati (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah / Kemendikdasmen), Paramitha Iswari (Gender Equality & Social Inclusion Expert) dan Felicia Hanitio Bhakti Djarum Foundation)
Kesenjangan gender dalam bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) masih menjadi tantangan nyata di tengah upaya Indonesia menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Meski siswi kerap mencatatkan prestasi akademik lebih tinggi, partisipasi mereka dalam praktik sains dan pilihan karier STEM masih rendah akibat hambatan non-akademik seperti bias sosial, rendahnya kepercayaan diri, dan minimnya figur perempuan di bidang teknologi.
Jimmy Daniel Berlianto (CIPS) memaparkan hasil penelitian tentang pengaruh manajemen sekolah dan persepsi sosial terhadap pengalaman belajar siswi di bidang STEM. Studi ini melibatkan sepuluh SMP di Bandung dan lebih dari 1.500 siswa, ditambah wawancara dengan guru dan kepala sekolah. Hasilnya menunjukkan paradoks menarik, yaitu capaian akademik siswi setara bahkan lebih tinggi dibanding siswa laki-laki, namun partisipasi dan kepercayaan diri mereka jauh lebih rendah, terutama dalam kegiatan praktikum dan diskusi kelas. Persepsi sosial dan pola pikir guru yang masih menilai laki-laki lebih aktif dan logis, sementara perempuan dianggap pasif dan emosional masih menjadi penghambatnya.
CIPS kemudian melakukan intervensi melalui workshop kepada guru dan kepala sekolah di enam sekolah. Pelatihan ini memperkenalkan konsep gender-responsive pedagogy yang mendorong guru memahami perbedaan pengalaman belajar antara siswa dan siswi. Setelah pelatihan, guru diminta merefleksikan praktik mengajar melalui catatan harian. Beberapa guru mulai menampilkan figur ilmuwan perempuan dalam materi ajar dan mengubah pola interaksi di kelas agar lebih setara. Meskipun dampaknya masih terbatas secara angka, perubahan sikap ini menunjukkan awal penting bagi budaya sekolah yang lebih inklusif. Jimmy menegaskan, keberlanjutan upaya ini perlu dukungan sistemik, terutama dengan memperkuat indikator kesetaraan gender dalam Rapor Pendidikan dan pelatihan guru berskala nasional.
Menanggapi hasil studi tersebut, Rahmawati (Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen) menegaskan bahwa data harus menjadi dasar perubahan nyata di sekolah. Asesmen Nasional dan Survei Lingkungan Belajar kini mencakup indikator kesetaraan gender yang mengungkap masih kuatnya pandangan tradisional: sebagian besar murid menilai posisi pemimpin lebih cocok untuk laki-laki, sedangkan perempuan dianggap lebih tepat di peran administratif. Pola pikir ini, ujarnya, secara halus memperkuat bias guru dalam perlakuan terhadap murid. Karena itu, hasil asesmen seharusnya dimanfaatkan sebagai bahan refleksi, bukan sekadar evaluasi, agar kesadaran guru terhadap inklusivitas tumbuh dalam praktik harian di kelas.
Sementara itu, Paramita Iswari, Gender Equality and Social Inclusion Expert, menambahkan bahwa kesetaraan gender tidak dapat dicapai hanya melalui kebijakan, tetapi melalui perubahan cara pandang guru. Bahasa, contoh, dan cara apresiasi yang bias dapat menanamkan persepsi bahwa STEM adalah ranah laki-laki. Ia menekankan pentingnya refleksi kritis dan kepemimpinan sekolah yang progresif untuk menciptakan ruang aman bagi guru mencoba pendekatan pembelajaran yang lebih setara.
Dari sektor filantropi, Felicia Hanitio (Bakti Pendidikan Djarum Foundation), menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor dalam membangun pendidikan yang inklusif gender. Banyak guru sebenarnya peduli pada isu kesetaraan, namun kurang dukungan dan pelatihan praktis. Melalui program pelatihan dan mentoring, yayasannya membantu guru mengembangkan growth mindset dan menghadirkan figur perempuan di bidang STEM sebagai inspirasi bagi siswi. Menurut Felicia, perubahan tidak boleh berhenti di ruang kelas, peran keluarga dan komunitas juga penting untuk memastikan nilai kesetaraan benar-benar tertanam dalam keseharian peserta didik.
Dalam sesi tanya jawab Nisa, peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK,) menanyakan alasan CIPS berfokus pada jenjang SMP, bukan SMA atau perguruan tinggi di mana kesenjangan partisipasi STEM lebih jelas. Jimmy menjawab bahwa masa SMP adalah fase kritis pembentukan minat akademik dan arah karir, sehingga intervensi kesetaraan gender paling efektif dilakukan pada tahap ini. Pembelajaran STEM yang setara gender tidak cukup dibangun lewat kebijakan, tetapi harus tumbuh dari refleksi guru, kepemimpinan sekolah yang inklusif, serta dukungan keluarga dan masyarakat yang konsisten menumbuhkan keadilan bagi seluruh peserta didik Indonesia.

Leave A Comment