Pemerintah Indonesia mencanangkan hilirisasi sebagai strategi sentral dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi delapan persen. Melalui rangkaian kebijakan, hilirisasi mendorong pengolahan bahan baku secara domestik menjadi barang menengah atau barang jadi, dengan asumsi semakin bergerak ke hilir, semakin besar nilai tambah yang dapat diperoleh. Namun, pergerakan menuju hilir juga menciptakan risiko. Ada berbagai risiko pasar yang dapat muncul, seperti dominasi negara-negara tertentu sebagai pembeli dan investor, risiko teknologi yang mempengaruhi permintaan dan membatasi penawaran, serta tuntutan lingkungan, sosial, dan tata kelola yang berbeda. Ditambah dengan melemahnya kekuatan pasar dan keterbatasan keunggulan kompetitif di pasar menengah dan hilir, rencana hilirisasi yang gegabah dapat menghancurkan nilai bagi Indonesia: baik dalam bentuk pendapatan negara yang hilang maupun dalam bentuk investasi yang terdampar ketika pasar berubah. Adanya berbagai pertimbangan ini menghasilkan satu pertanyaan: sebaiknya sejauh apa Indonesia perlu berenang ke hilir demi memaksimalkan nilai tambah?
Pembicara: Roes Regi Lutfi (LPEM FEB UI)
Kamis, 21 Mei 2026. Daring dalam Bahasa Indonesia
14.00-15.30 WIB (GMT+7)
Daring di Zoom dan YouTube.
- Registrasi Zoom: klik di sini
- YouTube bit.ly/fkp-live
Thumbnail picture © Alif R Noudy Korua/GreenpeaceÂ
Slides and video for past seminars:
Leave A Comment