FKP dengan tuan rumah Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia pada Selasa, 26 Agustus 2025
Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah demografinya. Proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk lanjut usia akan melonjak menjadi 47 juta jiwa (15,8% populasi) pada 2045, dari 22 juta jiwa (8,5% populasi) pada 2023, sementara angka kelahiran total (TFR) menurun menjadi 2,0 anak per perempuan. Pergeseran ini menandai berakhirnya bonus demografi dan munculnya tantangan baru berupa peningkatan rasio ketergantungan lansia hingga 54 per 100 penduduk pada 2050. Transisi ini menuntut kebijakan yang adaptif, bukan hanya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa penuaan penduduk berlangsung dalam kesejahteraan dan martabat.
Sebagai institusi riset demografi yang telah berkiprah selama lebih dari enam dekade, Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LD FEB UI) memperingati ulang tahunnya yang ke-61 dengan menyelenggarakan forum bertajuk “Pensiun Sejahtera 101: Kolaborasi untuk Lansia Indonesia Sejahtera.” Dalam sambutan pembuka, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Yulianti Abbas, menegaskan kembali peran LD sebagai pionir riset demografi yang tak hanya menelaah data kependudukan, tetapi juga mentransmisikannya pada agenda pembangunan nasional yang inklusif.
Dalam sesi keynote pertama, Sonny Harry B. Harmadi, Wakil Kepala Badan Pusat Statistik RI dan mantan Kepala LD, menekankan bahwa tantangan penuaan penduduk tidak hanya terletak pada peningkatan jumlah lansia, tetapi pada sistem data dan kebijakan untuk meresponsnya. Masih terdapat ketimpangan kesejahteraan dan akses antar wilayah dimana sebagian besar lansia tinggal di pedesaan, memiliki tingkat pendidikan rendah, serta masih bergantung pada dukungan keluarga karena minimnya perlindungan pensiun. Di saat yang sama, lebih dari 70% belum terhubung dengan layanan digital, sehingga berisiko tertinggal dari transformasi sistem jaminan sosial, kesehatan, dan keuangan berbasis teknologi. Tanpa integrasi big data, sinkronisasi registrasi kependudukan, dan pembacaan longitudinal terhadap mobilitas ekonomi lansia, kebijakan hanya akan menangani permukaan persoalan. Dalam konteks transisi demografi, keberhasilan Indonesia tidak diukur dari seberapa lama penduduk hidup, tetapi seberapa layak dan terlindungi mereka menjalani usia tua.
Melengkap perspektif statistik tersebut, Bagus Takwin, Dekan Fakultas Psikologi UI, mengajak audiens melihat isu penuaan dari sisi psikologis dan makna hidup. Ia menekankan bahwa kesejahteraan lansia bukan sekadar umur panjang, tetapi tentang kemampuan untuk tetap merasa berguna, terhubung, dan bermakna. Dengan mengutip teori Self-Determination dan PERMA Well-being, ia menyoroti pentingnya kebijakan sosial yang memungkinkan lansia mempertahankan otonomi dan relasi sosial yang sehat. Kisah nyata seperti Saparinah Sadli dan Mbah Wiryo memperlihatkan bahwa kebahagiaan di usia lanjut lahir dari ruang partisipasi dan kontribusi yang terbuka—sesuatu yang dapat diwujudkan lewat kota ramah lansia dan program antar generasi.
Banjaran Surya Indrastomo, Chief Economist di PT Bank Syariah Indonesia, menyoroti implikasi kesejahteraan dari transisi demografi. Ia mengingatkan bahwa meningkatnya rasio ketergantungan lansia hingga 54% pada 2050 dapat menjadi risiko besar bila sistem pensiun dan tabungan hari tua tidak segera diperluas. Dengan hanya sekitar 5% pekerja yang memiliki dana pensiun formal dan literasi finansial yang rendah, Indonesia berisiko menua sebelum sejahtera. Banjaran mendorong inovasi seperti fintech tabungan pensiun, instrumen investasi berbasis emas, serta kolaborasi pemerintah dan swasta untuk memperkuat ekosistem dana pensiun nasional.
Selepas jeda siang, forum berlanjut dengan diskusi panel yang dipandu oleh Florida Andriana (Think Policy). I Dewa Gede Karma Wisana (LD FEB UI) mengungkapkan bahwa meningkatnya proporsi lansia hingga 20% pada 2045 menuntut reformasi sistem jaminan sosial yang lebih inklusif. Ia mengingatkan bahwa sebagian besar pekerja informal belum terlindungi, sementara program pensiun formal seperti BPJS Ketenagakerjaan masih terbatas. Solusi yang ditawarkan mencakup inovasi tabungan mikro-pensiun dan digitalisasi keuangan agar setiap individu dapat menyiapkan hari tua secara mandiri. Perspektif ini diperkuat oleh Aliyah Natasya (DNA Finance) yang menekankan pentingnya kesiapan finansial pribadi melalui disiplin perencanaan keuangan. Ia mengingatkan bahwa inflasi, biaya kesehatan, dan ketidakpastian penghasilan adalah ancaman utama pensiun, sehingga masyarakat perlu membangun tiga fondasi finansial yaitu uang hidup untuk kebutuhan rutin, uang tenang sebagai proteksi, dan uang tumbuh untuk melawan inflasi.
Sementara itu, Trisno Muldani (Asosiasi Senior Living Indonesia) dan Muhammad Taqiyuddin (Bank Syariah Indonesia) memperluas pandangan dengan menyoroti dimensi industri dan spiritual dari kesejahteraan lansia. Trisno menunjukkan bahwa tumbuhnya populasi lansia menghadirkan peluang besar bagi pengembangan senior living industry — mulai dari hunian dan layanan kesehatan hingga pelatihan profesi caregiver. Ia menekankan perlunya standar layanan nasional dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil untuk menciptakan ekosistem ramah lansia. Di sisi lain, sektor perbankan menghadirkan inovasi seperti tabungan dan pembiayaan pra-pensiun, investasi emas digital, serta program haji khusus bagi calon pensiunan. Kombinasi pandangan dari keempat panelis ini membentuk satu kesimpulan kuat bahwa agar Indonesia tidak sekadar menua secara jumlah tapi juga disertai dengan kesiapan finansial, dukungan sosial, dan ketenangan spiritual maka diperlukan intervensi kebijakan yang terintegrasi.
Baca juga laporan terkait acara ini dari Humas FEB UI di sini.
Download presentasi dari acara ini di sini.




Leave A Comment