FKP dengan tuan rumah FEB Universitas Indonesia Selasa, 25 November 2025 dengan pembicara Farma Mangunsong ( FEB Universitas Indonesia)

Indonesia tengah memasuki fase penuaan penduduk. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa rasio ketergantungan lansia meningkat dari sekitar 11,95 pada 2010 menjadi 17,08 pada 2023, mencerminkan bertambahnya jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas yang ditopang oleh kelompok usia produktif. Pada saat yang sama, indeks kepuasan hidup lansia pada dimensi personal memperlihatkan bahwa dimensi kesehatan menjadi sumber kepuasan hidup yang paling penting, tetapi   seiring bertambahnya usia  dimensi ini mengalami penurunan yang paling tajam dibandingkan dimensi pendapatan, pekerjaan, maupun pendidikan. Di tengah kondisi ini, anggapan bahwa tinggal bersama anak atau keluarga secara otomatis melindungi kesejahteraan lansia menjadi semakin relevan untuk diuji secara empiris.

Dalam pemaparannya, Farma Mangunsong (FEB Universitas Indonesia) menjelaskan bahwa penelitiannya berfokus pada hubungan antara penurunan kapasitas fungsional lansia khususnya instrumental activities of daily living (IADL) dan kesejahteraan lansia, serta peran pengaturan tempat tinggal dan kondisi ekonomi dalam hubungan tersebut. Studi ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey (IFLS) gelombang 4 dan 5, dengan sampel 821 lansia berusia 60 tahun ke atas yang dapat ditelusuri secara longitudinal selama sekitar 7–8 tahun. Data menunjukkan bahwa meskipun 94,4% responden tidak memiliki keterbatasan IADL pada periode awal, sebesar 19,61% mengalami perburukan IADL dari waktu ke waktu. Penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari seperti berbelanja, menyiapkan makanan, dan mengatur konsumsi obat menjadi indikator penting berkurangnya kemandirian lansia.

Hasil analisis menunjukkan bahwa keterbatasan IADL berdampak negatif dan signifikan terhadap kesejahteraan lansia. Lansia yang memiliki keterbatasan IADL pada periode awal memiliki peluang kesejahteraan yang lebih rendah pada periode berikutnya, dan dampak tersebut semakin kuat ketika keterbatasan fungsional memburuk. Menariknya, temuan kunci penelitian ini justru menepis anggapan  umum bahwa tinggal bersama anak (termasuk anak perempuan dan/atau pasangannya), anggota keluarga lain, maupun non-keluarga tidak terbukti mampu memitigasi dampak negatif penurunan kapasitas fungsional terhadap kesejahteraan lansia. Sebaliknya, kondisi ekonomi muncul sebagai faktor yang lebih menentukan. Lansia dengan aset menengah hingga tinggi memiliki peluang kesejahteraan yang lebih baik, sementara penurunan aset yang dialami oleh sekitar 35,32% responden berkorelasi signifikan dengan memburuknya kualitas hidup di usia lanjut.

 Dalam sesi tanya-jawab, peserta diskusi mempertanyakan apakah perbedaan latar belakang etnis dan tradisi seperti kecenderungan tinggal dengan anak laki-laki atau anak perempuan dalam budaya tertentu dapat mempengaruhi hubungan antara penurunan kapasitas fungsional dan kesejahteraan lansia yang dianalisis dalam penelitian ini. Menanggapi hal tersebut, Farma menjelaskan bahwa variabel etnis tidak dimasukkan secara eksplisit dalam model regresi karena keterbatasan desain analisis, namun dimensi budaya tetap digunakan sebagai kerangka penjelas. Ia memberi contoh praktik tinggal bersama anak laki-laki pada sebagian kelompok Batak, atau dengan anak perempuan pada masyarakat Minangkabau, serta pola yang lebih fleksibel dalam keluarga Jawa. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasil empiris menunjukkan pola yang konsisten: ketika kapasitas fungsional lansia menurun, perbedaan budaya dalam pengaturan tempat tinggal tidak secara signifikan mengubah kesejahteraan mereka.  

Download slide disini