Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya kembali menjadi tuan rumah seminar Forum Kajian Pembangunan, yang kali ini akan membahas aspek ekonomi dari krisis energi global dan transisi ke energi terbarukan. Berdasarkan penelitian terbaru, seminar ini mengulas dampak transisi energi terhadap perekonomian Sumatera Selatan dan bagaimana kebijakan hijau dapat membantu mengelola risiko keuangan dalam proses peralihan ke ekonomi rendah karbon di negara berkembang, termasuk Indonesia. Acara ini diharapkan menjadi ajang diskusi dan tukar pikiran mengenai tantangan ekonomi dan kebijakan yang muncul dalam upaya global menuju energi berkelanjutan.

Senin, 19 Mei 2025 pukul 08.45-11.30 WIB (hibrida dalam Bahasa Indonesia)

Program (abstrak di bagian bawah)

08.30 – 08.45 Registrasi untuk kehadiran luring

08.45– 09.00 Pembukaan oleh Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (FE UNSRI)

09.10 – 09.40 Topik 1. “Transisi energi dan dampaknya bagi perekonomian Sumatera Selatan” oleh Imam Asngari (FE UNSRI)

09.40 – 10.10 Topik 2. “Analisis empiris peran instrumen kebijakan ekonomi hijau dalam mitigasi risiko transisi bank menuju ekonomi rendah karbon: studi kasus negara emerging markets” oleh Sri Andaiyani (FE UNSRI)

10.10 – 11.20 Tanya jawab dan diskusi

11.20 – 11.30 Penutup

Acara ini akan berlangsung secara hibrida. Tempat: Ruang Aula Magister Manajemen Lantai 3, Kampus Bukit Besar Palembang

Daring di Zoom. Registrasi: bit.ly/fkp1905

ABSTRAK

Topik 1. “Transisi energi dan dampaknya bagi perekonomian Sumatera Selatan” oleh Imam Asngari (FE UNSRI)

Sumatera Selatan merupakan salah satu dari 10 provinsi terkaya sumberdaya alamnya di Indonesia.Sumatera Selatan ditetapkan menjadi Lumbung Pangan dan Lumbung Energi Nasional. Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui pemanfaatan batubara, minyak bumi, gas alam, energi panas bumi, gas metan, dan energi terbarukan. Akibat ekstraksi pertambangan dan penggunaan energi fosil telah menimbulkan kerusakan lingkungan dan meningkatkan emisi karbon, yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Upaya memitigasi pemanasan global dan perubahan iklim perlu dilakukan transisi energi. Transisi energi menjadi tantangan besar bagi Provinsi Penghasil Batubara. Peralihan dari energi fosil batubara ke energi baru terbarukan akan mengakibatkan perekonomian penghasil batubara pendapatannya menurun, angka pengangguran dan kemiskinan semakin sulit diturunkan. Sementara untuk investasi ke energi baru dan terbarukan membutuhkan biaya dan waktu yang lama menuju titik ekonomisnya. Oleh karena itu, kajian ini dilakukan untuk memberikan alternatif jawaban mengapa transisi energi perlu dilakukan dan apa saja dampak transisi energi bagi perekonomian Sumatera Selatan. Teknik analisis menggunakan pendekatan pemodelan ekonomi dan studi literatur hasil kajian transisi energi di Sumatera Selatan. Sumber Data yang digunakan dari BPS tahun 2010-2023, dan dilakukan proyeksi tahun 2024-2045. Tujuan analisis uuntuk mengetahui persoalam ekonomi yang berkaitan dengan transisi energi meliputi analisis keternaitan pertumbuhan ekonomi, peluang kerja, investasi, pengangguran, kemiskinan. dan pmbangunan sumberdaya manusia Oleh karena itu pemerintah daerah Sumatera Selatan disarankan untuk menlakukan transisi energi dan mengimplementasikan kebijakan hilirisasi komoditas unggulan, merevitalisasi sektor pertanian dan pariwisata yang dikaitkan dengan budaya, sejarah dan pelaku UMKM. Transisi energi sekaligus menjadi solusi transformasi ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan.

Topik 2. “Analisis empiris peran instrumen kebijakan ekonomi hijau dalam mitigasi risiko transisi bank menuju ekonomi rendah karbon: studi kasus negara emerging markets” oleh Sri Andaiyani (FE UNSRI)

Peningkatan emisi karbon global mendorong banyak negara, termasuk negara berkembang, untuk menetapkan target net zero emissions guna menanggulangi perubahan iklim. Transisi menuju ekonomi rendah karbon ini menimbulkan berbagai risiko, terutama bagi sektor perbankan yang perlu menyesuaikan kebijakan dan pembiayaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran instrumen kebijakan ekonomi hijau dalam memitigasi risiko transisi perbankan dalam konteks negara-negara Emerging Markets. Risiko transisi diukur menggunakan indikator Carbon Footprint of Bank Loans (CFBL). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui analisis regresi data panel dengan model Fixed Effect, mencakup periode tahun 2011–2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi hijau memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan risiko transisi. Instrumen seperti green credit dan green bond terbukti efektif dalam mengurangi risiko, sedangkan peningkatan konsumsi energi terbarukan justru secara tidak terduga meningkatkan risiko transisi bagi perbankan, kemungkinan karena tingginya biaya awal dan ketidakpastian dalam investasi energi terbarukan. Temuan ini menekankan pentingnya sinergi antara sektor keuangan dan kebijakan transisi energi, serta perlunya penguatan regulasi dan pendanaan hijau untuk memastikan transisi menuju ekonomi berkelanjutan dapat berlangsung secara stabil, khususnya di negara-negara berkembang yang rentan terhadap perubahan struktural ekonomi global.

Thumbnail photo by Sang-Eun Kim on Unsplash

Slides and video for past seminars: