FKP dengan tuan rumah BPS Provinsi Bali, Rabu 20 Agustus 2025 dengan pembicara I Wayan Putra Aditya (Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional), Sandy Dwiputra Yubianto (Politeknik Internasional Bali), Taly Purwa (BPS Provinsi Bali) dan Firman Afrianto (Program Doktor PWK UGM) dan Moderator I Made Inna  Dariwardani (Universitas Udayana)

I Wayan Putra Aditya (Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional) mengawali sesi dengan menjelaskan konsep regenerative tourism, pendekatan yang disebutkan melampaui sustainable tourism dengan memasukkan aktivitas pemulihan ekosistem dan budaya lokal. Berdasarkan studi di Taman Hutan Raya I Gusti Ngurah Rai, Bali, lokasi showcase KTT G20, ia menunjukkan bagaimana restorasi mangrove, pengolahan limbah ramah lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir dapat menjadikan kawasan konservasi sebagai laboratorium hidup pariwisata hijau. Dalam analisisnya Putra menemukan bahwa industri cenderung memandang keberlanjutan sebagai bagian dari branding dan CSR, sementara masyarakat melihatnya sebagai upaya menjaga sumber kehidupan. Ia mengingatkan pentingnya tata kelola partisipatif agar masyarakat menjadi aktor utama, serta perlunya keterlibatan wisatawan dalam aksi konservasi seperti menanam mangrove. Konsep regeneratif, tegasnya, bukan sekadar mempertahankan alam, tetapi memulihkan dan memperbaiki hubungan manusia dan lingkungan agar lebih baik dari sebelumnya.

Pemateri kedua, Sandy Dwiputra Yubianto  (Politeknik Internasional Bali) menyoroti hubungan gastronomi (ilmu yang mempelajari hubungan antara makanan dan budaya) dan keberlanjutan ekosistem. Gastronomi berkelanjutan dikonsepkan sebagai jembatan antara pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi lokal. Ia meneliti dua produk minuman ikonis: Loloh Cemcem, minuman herbal dari Desa Penglipuran di Bali, dan Sopi, minuman fermentasi dari nira lontar di Flores. Warga Desa Penglipuran menanam cemcem (spondias pinnata) di halaman rumah sebagai tradisi sekaligus pasokan bahan kuliner, sedangkan masyarakat Flores memanfaatkan seluruh bagian pohon lontar tanpa limbah dari batang hingga buah (zero waste). Di kampus PIB College, konsep serupa diterapkan melalui model farm-to-fork yang melatih mahasiswa memanfaatkan bahan lokal dan mengelola limbah makanan. Sandy menekankan bahwa kuliner tradisional bukan sekadar komoditas, melainkan warisan budaya tak berwujud yang dapat membangun citra destinasi wisata sekaligus memperkuat ketahanan ekologi dan ekonomi masyarakat. Baik loloh cemcem maupun sopi menggambarkan bagaimana kearifan lokal, biodiversitas, dan ekonomi komunitas saling memperkuat. 

Paparan terakhir oleh Taly Purwa (BPS Provinsi Bali) dan Firman Afrianto (Program Doktor PWK UGM) mengulas potensi besar Sumatra melalui data-driven spatial models. Dengan 4.982 jumlah daya tarik wisata (DTW), Sumatera memiliki potensi besar namun kinerjanya dalam Indeks Pariwisata Berkelanjutan masih moderat. Analisis Spatial Sustainable Assessment Model (SSAM) menunjukkan indeks ekonomi dan sosial meningkat  tetapi aspek lingkungan justru menurun. Analisis spasial juga mengungkap adanya efek penyebaran lintas wilayah, di mana kemajuan pariwisata di satu provinsi berdampak positif pada daerah tetangga. Menariknya, faktor utama pendorong pertumbuhan adalah sektor akomodasi dan makanan-minuman yang didominasi oleh hotel non-bintang yang lebih mudah diakses wisatawan. Keduanya merekomendasikan beberapa kebijakan salah satunya yaitu agar perencanaan pariwisata tidak dilakukan secara sektoral atau administratif, melainkan berdasarkan klaster wilayah wisata yang saling terhubung secara geografis dan ekonomi.

Dalam sesi tanya jawab, salah satu isu penting adalah bagaimana memastikan masyarakat lokal benar-benar menjadi penggerak utama, bukan sekadar simbol partisipasi. I Wayan Putra Aditya menjawab bahwa kuncinya adalah memberi masyarakat peran nyata dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan, bukan hanya dilibatkan secara simbolik. pariwisata regeneratif hanya bisa berhasil jika masyarakat menjadi aktor utama yang memiliki kompetensi, tanggung jawab, dan kendali terhadap sumber daya mereka sendiri; dengan demikian, keberlanjutan tak berhenti pada pelestarian alam, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal dan menumbuhkan kesadaran lingkungan secara kolektif

Download slide disini

Thumbnail photo by  Penglipuran.com