FKP dengan tuan rumah J-PAL Southeast Asia Jumat, 27 Januari 2026 dengan pembicara Milda Irhamni (Universitas Indonesia), Gumilang Sahadewo (Universitas Gadjah Mada), dan Peter Rockers (Boston University) dan penanggap Irma Ardiana (Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN) serta moderator Persona Gemilang ( J-PAL Southeast Asia)

Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan keterlambatan perkembangan kognitif, rendahnya capaian pendidikan, hingga penurunan produktivitas ekonomi dalam jangka panjang. Dalam satu dekade terakhir, Indonesia telah mengakselerasi berbagai strategi nasional untuk menurunkan stunting. Namun, prevalensi yang masih berada di kisaran 20% pada 2024 menunjukkan bahwa masih terdapat tantangan berupa efektivitas program dalam mengubah perilaku rumah tangga sebagai aktor utama dalam pemenuhan gizi anak.

Untuk menjawab kesenjangan tersebut, Milda Irhamni (Universitas Indonesia) menjelaskan bahwa tim J-PAL Southeast Asia melakukan penelitian untuk menguji intervensi sederhana berbasis informasi di tingkat rumah tangga melalui penggunaan poster grafik pertumbuhan anak (growth chart). Studi ini menggunakan desain randomized impact evaluation terhadap 1.480 rumah tangga di 110 desa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, wilayah dengan prevalensi stunting awal sekitar 35,3%. Poster tersebut berfungsi sebagai alat bantu visual yang dapat membantu orang tua memantau tumbuh kembang anak yang dilengkapi panduan praktis terkait nutrisi dan pengasuhan. Pendekatan ini bertumpu pada asumsi bahwa peningkatan informasi dan kesadaran dapat mendorong perubahan perilaku, terutama dalam meningkatkan perhatian orang tua terhadap pertumbuhan anak, mendorong praktik pemantauan secara mandiri, serta menyesuaikan pola konsumsi dan pengasuhan yang lebih mendukung tumbuh kembang anak. 

Peter Rockers (Boston University) menambahkan bahwa penelitian ini mengadopsi indikator Global Scales for Early Development (GSED) untuk menilai perkembangan anak secara lebih komprehensif, mencakup aspek kognitif, bahasa, dan sosial-emosional, tidak hanya pertumbuhan fisik. GSED digunakan untuk mengukur posisi perkembangan anak relatif terhadap usianya, sehingga memperluas evaluasi dampak intervensi. Studi sebelumnya di Zambia menunjukkan bahwa intervensi serupa mampu meningkatkan kesadaran orang tua dan mendorong perubahan perilaku yang berdampak pada perkembangan anak.

Hasil studi yang dipaparkan oleh Gumilang Sahadewo (Universitas Gadjah Mada) menunjukan bahwa terdapat perubahan perilaku yang diharapkan. Data baseline menunjukkan kondisi awal yang cukup menantang: sekitar 1 dari 4 anak mengalami stunting, sekitar 20% berada dalam kondisi kurang berat badan, dan hanya sekitar 40% yang telah menyelesaikan imunisasi dasar pada usia 9 bulan. Setelah intervensi, terjadi peningkatan kesadaran orang tua serta perubahan pola pengeluaran pangan terutama pada konsumsi karbohidrat, sayuran, buah, dan protein nabati. Akan tetapi, perubahan ini tidak diikuti oleh perbaikan signifikan pada indikator antropometri (height-for-age, weight-for-age, & weight-for-height) maupun indikator GSED. 

Menanggapi temuan tersebut, Irma Ardiana (Kemendukbangga/BKKBN) menekankan bahwa hasil penelitian ini memperlihatkan batasan nyata dari intervensi berbasis informasi. Peningkatan kesadaran orang tua memang penting, namun sering kali tidak diikuti oleh perubahan kualitas konsumsi karena keterbatasan ekonomi dan akses terhadap pangan bergizi. Oleh karena itu, intervensi seperti growth chart perlu diposisikan sebagai alat pelengkap yang memperkuat komunikasi dan pemantauan di tingkat keluarga, bukan sebagai solusi tunggal. Efektivitasnya akan jauh lebih besar apabila diintegrasikan dengan program pendampingan keluarga, layanan kesehatan ibu dan anak, serta dukungan sosial-ekonomi, sehingga perubahan perilaku dapat benar-benar diterjemahkan menjadi perbaikan gizi dan perkembangan anak.

Dalam sesi tanya jawab, peserta juga mempertanyakan mengapa intervensi ini tidak menghasilkan dampak signifikan seperti hasil studi di Zambia. Menanggapi hal tersebut, peneliti menjelaskan bahwa meskipun terjadi perubahan perilaku, keterbatasan ekonomi membuat rumah tangga cenderung menyesuaikan konsumsi pada opsi yang paling terjangkau, bukan yang paling bernutrisi, sehingga dampak terhadap status gizi anak menjadi terbatas dan tidak cukup untuk mempengaruhi outcome. Diperlukan pendampingan dan bantuan berkelanjutan, misalnya melalui integrasi Program Keluarga Harapan (PKH), agar peningkatan kesadaran dapat diterjemahkan menjadi perubahan perilaku yang lebih substantif. Integrasi ini penting untuk memperkuat kapasitas ekonomi rumah tangga sekaligus memastikan pendampingan rutin, sehingga berdampak pada perbaikan gizi dan perkembangan anak.

Download slide disini