Di Bantargebang, terdapat dua sentra pengolahan sampah: Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang menerima sampah sebanyak rata-rata 7.000 ton/hari dari Jakarta, dan TPA Sumur Batu yang menerima 1.400–1.500 ton/hari dari Kota Bekasi. Keduanya kini mengalami kelebihan kapasitas; bahkan, tumpukan sampah di TPST Bantargebang telah mencapai ketinggian setara gedung 16 lantai. Di balik gunungan sampah tersebut, terdapat komunitas pemulung yang turut memilah sampah di hilir. Diperkirakan terdapat 6.000–10.000 pemulung di kawasan Bantargebang, yang secara kolektif mengelola sampah sekitar 636 ton/hari.
Dalam seminar ini, SMERU bersama dengan Greenpeace akan mempresentasikan hasil dari studi di Kecamatan Bantargebang yang merupakan salah satu kawasan pengelolaan sampah hilir terbesar di Indonesia. Tujuan seminar ini adalah untuk pemahaman tentang kondisi kerentanan yang dihadapi pemulung sebagai pekerja lingkungan yang termarginalkan, serta membuka dialog terkait upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas pemulung.
Baca dan unduh laporan lengkapnya dari tautan ini.
- Pramono Anung Wibowo* (Gubernur DKI Jakarta): Jakarta berbenah: kebijakan pengelolaan sampah dari hulu dan masa depan komunitas pemulung Bantargebang
- Viona Gunawan (SMERU): Dari rumah tangga ke gunungan sampah: kontribusi dan kerentanan pemulung dalam sistem persampahan
- Bagong Suyoto (Ketua Koalisi Persampahan Nasional): Suara dari Bantargebang: sejarah, realitas, dan harapan komunitas pemulung
*dalam konfirmasi
Kamis, 18 Juni 2026. Daring dalam Bahasa Indonesia
10.00-12.00 WIB (GMT+7)
Daring di Zoom Webinar dan livestream via YouTube
- Registrasi Zoom: klik di sini
- YouTube: klik di sini
Slides and video for past seminars:
Leave A Comment