FKP dengan tuan rumah Bank Indonesia Institute dengan narasumber Arnita Rishanty (Bank Indonesia) dan Yudistira Permana (Universitas Gadjah Mada). Kamis, 3 Juni 2021.

KEY POINTS:

  1. Circular economy berupaya menciptakan sistem produksi yang self-sustaining. Barang diproduksi menggunakan sumber daya yang telah diproduksi sebelumnya, tidak mengambil dari alam sehingga mengurangi eksploitasi dan limbah. Hasil studi menunjukkan bahwa circularity level dari suatu perusahaan berdampak positif terhadap indikator produktivitas (value added, labor productivity, dan output production). Circularity level pada sektor pertanian ditemukan memiliki dampak pada produktivitas yang paling tinggi.
  2. Meningkatkan konsumsi produk hijau diperkirakan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Konsep nudge diusulkan untuk mendorong pilihan masyarakat terhadap produk ramah lingkungan. Namun, hasil studi eksperimen di Universitas Gajah Mada menunjukkan bahwa subjek yang diberikan nudge berperilaku mirip dengan yang ada di kelompok kontrol, hal ini menunjukkan bahwa informasi dan dorongan (nudge) tidak dapat secara signifikan mengubah preferensi subjek. Meskipun demikian, subjek yang mendapat dorongan identitas sosial, menunjukkan alokasi yang lebih tinggi pada produk hijau.

 

SUMMARY

  1. Konsep circular economy berusaha menghubungkan ecological system dan economic growth, di mana lingkungan dapat lestari dan ekonomi manusia tetap tumbuh. Dalam webinar FKP ini, Arnita Rishanty dari Bank Indonesia Institute memaparkan hasil studi terkait dampak ekonomi sirkuler (circular economy) terhadap produktivitas perusahaan di Indonesia. Saat ini sumber daya di bumi sudah digunakan secara berlebihan dan melebihi kapasitas bumi. Kesadaran masyarakat secara umum tentang pembangunan berkelanjutan masih sangat terbatas dan kurang menjadi prioritas dalam melakukan keputusan, tak terkecuali dalam bisnis.
  2. Circular economy berupaya menciptakan sistem produksi yang self-sustaining. Barang diproduksi menggunakan sumber daya yang telah diproduksi sebelumnya, tidak mengambil dari alam sehingga mengurangi eksploitasi dan limbah. Tiap komponen dari suatu produk dapat digunakan kembali untuk memiliki nilai ekonomi dan mengurangi biaya produksi. Circular economy memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pola produksi konvensional: mengurangi emisi sepanjang rantai produksi dengan mendesain polusi dan limbah, mempertahankan kegunaan dari tiap material dalam produk, dan meretensi karbon ke dalam tanah. 
  3. Studi dari Arnita Rishanty mencoba melihat bagaimana dampak penerapan circular economy terhadap produktivitas perusahaan selama periode tahun 2000-2015. Di Indonesia, data tentang emisi perusahaan sangat terbatas. Penelitian ini memanfaatkan data Survei Industri Besar dan Sedang (SIBS) yang mencakup lebih dari 20.000 perusahaan pengolahan di 34 provinsi di Indonesia. Circularity level dari suatu perusahaan diukur dengan membandingkan total produksi suatu perusahaan yang menggunakan bahan dasar limbah perusahaan lain di sektor yang sama terhadap total produksi di sektor tersebut.
  4. Hasil studi menunjukkan bahwa circularity level dari suatu perusahaan berdampak positif terhadap beberapa indikator produktivitas (value added, labor productivity, dan output production) dengan besaran yang berbeda-beda pada tiap sektor. Circularity level pada sektor pertanian ditemukan memiliki dampak pada produktivitas yang paling tinggi.  Selain dari hasil tersebut, studi ini juga menemukan bahwa kompetisi pasar tinggi mendorong perusahaan untuk menerapkan circular economy. Dalam pasar yang kompetitif, perusahaan akan menerapkan circular economy untuk meningkatkan produktivitas perusahaan agar dapat tetap bersaing. Ini menunjukkan pentingnya bagi pemerintah mendorong pasar yang kompetitif untuk dapat terus mendorong industri menerapkan circular economy
  5. Presentasi kedua dalam webinar FKP ini adalah oleh Yudhistira Permana dari Universitas Gajah Mada tentang preferensi konsumen pada produk hijau, yaitu produk yang menghasilkan lebih sedikit limbah (dibandingkan dengan brown product) sehingga mengurangi dampak yang merugikan bagi lingkungan. Konsep nudge diusulkan untuk mendorong pilihan masyarakat terhadap produk ramah lingkungan. Ada tiga tipe green nudges dalam studi ini: (1) memanfaatkan kecenderungan individu untuk meningkatkan citra diri mereka melalui perilaku hijau, (2) mendorong orang untuk mengikuti perilaku orang lain (menggunakan produk ramah lingkungan), dan (3) mengeksploitasi kecenderungan individu untuk tetap pada perilaku sebelumnya (konsumsi brown product). 
  6. Eksperimen dilakukan secara daring dengan partisipan sebanyak 156 orang dari staff dan mahasiswa UGM yang dipilih secara acak. Partisipan dibagi ke dalam empat kelompok treatment: kelompok 1 tidak diberitahu apa-apa tentang cara memproduksi green product dan brown product (maupun dorongan untuk mengkonsumsi produk hijau); kelompok 2 hanya diberitahu tentang cara memproduksi kedua jenis barang;  kelompok 3 diberi tahu tentang cara memproduksi kedua jenis barang serta kampanye identitas sosial khusus untuk mendorong subjek mengonsumsi barang hijau; dan kelompok 4 diberitahu tentang cara memproduksi kedua jenis produk serta kampanye netral untuk mendorong subyek mengkonsumsi produk hijau.
  7. Hasil studi ini menunjukkan bahwa subjek yang diberikan nudge berperilaku mirip dengan yang ada di kelompok kontrol, hal ini menunjukkan bahwa informasi dan dorongan (nudge) tidak dapat secara signifikan mengubah karakteristik subjek. Meskipun demikian, beberapa parameter yang diestimasi menunjukkan hasil yang berbeda dari yang ada pada kelompok kontrol. Salah satunya, subjek yang berada di kelompok 3 (dorongan sosial), menunjukkan alokasi yang lebih tinggi pada produk hijau.  Pengaruh kuat dari dorongan identitas sosial memperluas temuan sebelumnya dimana framing produk hijau dapat mempengaruhi kesediaan konsumen untuk membayar lebih untuk produk tersebut.
Download slides (Yudhistira Permana)