FKP dengan tuan rumah Universitas Pattimura dengan narasumber James Abrahamsz (Faculty of Fisheries and Marine Science, Universitas Pattimura) dan Wardis Girsang (Faculty of Agriculture, Universitas Pattimura). Rabu, 29 Maret 2023.

 

KEY POINTS:

  1. Kepulauan Maluku sedikitnya terdiri dari 1.388 pulau dan menyumbang 30% dari produksi perikanan nasional dan kawasan konservasi laut Indonesia. Namun, sebagian besar nelayan lokal memiliki produktivitas dan pendapatan yang rendah. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan penguatan pengelolaan kawasan konservasi dan praktik pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat yang diterapkan di Maluku.
  2. Wilayah kepulauan Maluku juga memiliki potensi besar produksi sagu sebagai pengganti beras untuk mendukung ketahanan pangan. Namun, petani sagu masih menghadapi banyak permasalahan sehingga sulit berkembang. Perlu dilakukan integrasi usaha ikan, ternak dan tanaman hortikultura yang menguntungkan serta hilirisasi industri sagu yang berskala kecil, ramah lingkungan, dan berkelanjutan melalui keterkaitan pasar dengan usaha koperasi dan BUMDes untuk mendukung pengembangan pertanian terpadu berbasis tanaman sagu di Maluku dan Papua.


SUMMARY

  1. Kepulauan Maluku sedikitnya terdiri dari 1.388 pulau dan menyumbang 30% dari produksi perikanan nasional dan kawasan konservasi laut Indonesia. Namun, sebagian besar nelayan lokal memiliki produktivitas dan pendapatan yang rendah. Maluku adalah provinsi termiskin keempat di Indonesia. James Abrahamsz membahas tentang pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan pengembangan konservasi di pulau-pulau kecil di Maluku.
  2. Masyarakat Maluku memiliki kearifan lokal yang berpotensi memperkuat ketahanan pangan. Teknologi dan praktik pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat yang diterapkan di Maluku dapat melestarikan sumber daya perikanan dalam jangka panjang, seperti melalui praktik Sasi (larangan bagi warga mengambil hasil kelautan atau pertanian pada waktu yang ditentukan). Masyarakat juga memiliki pengetahuan lokal tentang daerah penangkapan ikan serta navigasi tradisional. 
  3. Berdasarkan hasil studi skenario konservasi perikanan di pulau kecil di Maluku, pengelolaan perikanan harus didasarkan pada penguatan pengelolaan kawasan konservasi. Efektivitas pengelolaan area konservasi tidak bisa hanya bergantung pada aspek administratif. Pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem harus menjadi dasar pembangunan perikanan terpadu di Provinsi Maluku pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya; dengan kearifan lokal yang memperkuat pengelolaan perikanan berkelanjutan di Maluku dan sekitarnya.
  4. Provinsi Maluku memiliki salah satu indeks ketahanan pangan terendah di Indonesia. Dalam praktiknya, masyarakat Maluku harus membayar harga beras, telur, dan gula lebih mahal dari rata-rata nasional. Sebenarnya, selain sumberdaya perikanan, kepulauan Maluku juga memiliki potensi besar produksi sagu. Wardis Girsang menjelaskan tentang pertanian terpadu berbasis tanaman sagu untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia, khususnya Maluku. 
  5. Rata-rata pengeluaran untuk beras perkapita perbulan Indonesia adalah sebesar Rp64.425 dalam 5 tahun terakhir, sedangkan di Maluku sebesar Rp79.292. Tingkat kemiskinan tinggi membuat daya beli masyarakat semakin turun dan pengeluaran masyarakat banyak dihabiskan untuk kebutuhan pokok. Kebijakan pangan nasional bias beras berisiko tinggi. Kenaikan harga energi dapat berakibat biaya produksi mahal, sehingga harga beras semakin mahal dan memicu inflasi.
  6. Sagu dinilai memiliki potensi tinggi sebagai pengganti beras. Produsen tertinggi Indonesia berada di Maluku dan Papua, dimana kedua wilayah tersebut memiliki kerawanan pangan yang tinggi. Namun petani sagu masih menghadapi banyak permasalahan sehingga tidak berkembang, antara lain adalah lokasi sagu yang tersebar dengan medan sulit, biaya modal kerja tinggi, akses kredit sulit, teknologi produksi konvensional, skala usaha kecil, dan tuntutan pasar untuk mutu produk tinggi dalam jumlah besar. 
  7. Secara umum, pendapatan bersih petani sagu hanya sekitar 2-3 juta per bulan dan habis untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Petani sagu juga kerap terjerat sistem ijon dan menjual sagu dengan harga murah. Petani sagu perlu dibela melalui integrasi usaha ikan, ternak dan tanaman hortikultura yang menguntungkan. Hilirisasi industri sagu perlu dikembangkan yang berskala kecil, ramah lingkungan, dan berkelanjutan melalui keterkaitan pasar dengan usaha koperasi dan BUMDes.
Download slides (Wardis Girsang)