FKP dengan tuan rumah The SMERU Research Institute dengan narasumber Ana Rosidha Tamyis (Senior Researcher, SMERU), Irsan Firmansyah (CEO, The Local Enablers Research). Rabu, 19 Oktober 2022.

KEY POINTS:

  1. Tingginya angka pengangguran pemuda menjadi salah satu isu pembangunan di Indonesia. Kewirausahaan dapat menjadi peluang mengatasi pengangguran muda. Analisis ekosistem wirausaha pemuda memperlihatkan bahwa pembangunan SDM merupakan kunci pengembangan wirausaha. Namun pembangunan SDM masih timpang dalam segi akses akibat kendala biaya, informasi, dan perbedaan kualitas pelatihan. 
  2. Kesenjangan digital membuat pemanfaatan teknologi digital untuk kegiatan usaha belum maksimal. Infrastruktur yang tidak merata, kepemilikan yang yang tidak merata antar tingkat kesejahteraan, biaya akses internet, dan rendahnya literasi digital menjadi tantangan utama. Sekitar 75% usaha yang telah terdigitalisasi terpusat di pulau Jawa. Empat wilayah dengan jumlah inkubator dan universitas terbanyak terdapat di Pulau Jawa yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.  Untuk pengembangan kemampuan digital di daerah, pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri dan harus kolaborasi dengan berbagai pihak. Program juga harus berjalan terus menerus, tidak berupa beberapa pelatihan saja.

 

SUMMARY

  1. Tingginya angka pengangguran pemuda menjadi salah satu isu pembangunan di Indonesia. Studi World Bank tahun 2020 menyebutkan bahwa angka pengangguran pemuda di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2019 menemukan bahwa hampir tiga perempat dari penganggur di Indonesia adalah pemuda. 
  2. Pemuda menghadapi berbagai tantangan ketika masuk ke dunia usaha, seperti kurangnya kecakapan, jejaring, dan sumber daya, termasuk dukungan keluarga untuk menjalankan usaha. Namun, pemuda memiliki banyak keunggulan, salah satunya adalah akses mereka terhadap internet. Data Sakernas menunjukkan bahwa meski proporsi pekerja muda mengalami penurunan dari 2018 sampai 2020, proporsi pemuda yang bekerja dan menggunakan internet justru meningkat. Berbagai data tersebut menunjukkan bahwa pemuda Indonesia berpotensi untuk menjawab tantangan yang saat ini tengah mereka hadapi. 
  3. Kewirausahaan dapat menjadi peluang mengatasi pengangguran muda. Menurut analisis yang dilakukan The SMERU Research Institute yang dijabaran oleh peneliti senior Ana Rosidha Tamyis, ekosistem wirausaha pemuda memperlihatkan bahwa pembangunan SDM merupakan kunci pengembangan wirausaha. Berbagai dukungan dan program pemerintah bagi pengembangan SDM telah tersedia, namun masih timpang dalam segi akses akibat kendala biaya, informasi, dan perbedaan kualitas pelatihan. Teknologi digital berpeluang menjadi jalan keluar untuk meminimalkan ketimpangan tersebut. Selain itu, teknologi digital juga dapat mendukung pengembangan usaha, dengan mengurangi biaya transaksi, meningkatnya promosi, dan meningkatnya inovasi penjualan. Namun kesenjangan digital membuat pemanfaatan teknologi digital untuk kegiatan usaha belum maksimal. Infrastruktur yang tidak merata, kepemilikan yang yang tidak merata antar tingkat kesejahteraan, biaya akses internet, dan rendahnya literasi digital menjadi tantangan. Oleh karena itu, kesenjangan digital antar pemuda harus diatasi terlebih dahulu oleh pemerintah agar pemanfaatan teknologi digital oleh pemuda wirausaha bisa maksimal. 
  4. Irsan Firmansyah dari The Local Enabler Research memaparkan kendala pemanfaatan teknologi digital oleh pemuda wirausaha di berbagai daerah. Setiap stakeholder perlu mengupayakan perannya, dan berkontribusi pada terciptanya simpul-simpul kolaborasi untuk mendukung ekosistem kewirausahaan pemuda. Namun Irsan juga menyadari bahwa tantangan utama wirausaha digital muda adalah kesenjangan. Sekitar 75% usaha yang telah terdigitalisasi terpusat di pulau Jawa. Empat wilayah dengan jumlah inkubator dan universitas terbanyak terdapat di Pulau Jawa yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Konektivitas kolaborasi antar stakeholder di daerah menjadi penting untuk didorong agak terjadi simpul kolaborasi di wilayah lain di luar Pulau Jawa. 
  5. Yuana Rochma Astuti dari Kemenparekraf menyampaikan pembelajaran dari pengalaman dalam lingkup kewirausahaan pemuda berbasis teknologi digital. Ia menjelaskan bahwa persentase kewirausahaan di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Meskipun demikian, Indonesia ternyata adalah salah satu negara yang banyak melahirkan perusahaan rintisan. Per Maret 2019, jumlahnya mencapai 2.074 startup. Untuk pengembangan kemampuan digital di daerah, pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri dan harus kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama pihak yg memiliki solusi/track record baik. Program juga harus berjalan terus menerus, tidak berupa beberapa pelatihan saja.
Download slides