FKP dengan tuan rumah ANU Indonesia Project pada Kamis, 18 September 2024 dengan pemateri . Teguh Yudho Wijaksono (Universitas Islam Internasional Indonesia)
Teguh Yudho Wijaksono (Universitas Islam Internasional Indonesia) mempresentasikan hasil penelitian berjudul Disruptive Technology, Skills, and Tasks: Evidence from Indonesia, yang ia lakukan bersama Carlos Mangunsong (BTS Indonesia). Penelitian ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey (2007–2014) dan CSIS–ADB Manufacturing Survey (2018) untuk menelaah dampak teknologi terhadap pasar tenaga kerja di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan adanya indikasi awal terjadinya job polarization, di mana pekerja dengan keterampilan menengah mengalami stagnasi baik dari sisi upah maupun pertumbuhan lapangan kerja. Hal ini disebabkan oleh otomatisasi dan digitalisasi yang cenderung menggantikan tugas-tugas rutin berulang yang banyak diemban pekerja middle-skill, sementara teknologi sekaligus melengkapi (complement) pekerjaan kognitif-teknologis berkeahlian tinggi dan sulit menggantikan pekerjaan non-rutin berinteraksi manusia di segmen keterampilan rendah. Pola ini sejalan dengan tren negara maju, meskipun intensitasnya di Indonesia relatif lebih moderat.
Pengolahan data lebih lanjut menunjukkan bahwa kenaikan satu standar deviasi routine physical tasks berkorelasi dengan penurunan upah sebesar 2,45%. Sebaliknya, routine cognitive tasks masih memberikan premi upah sekitar 2,5%, berbeda dengan negara maju di mana jenis pekerjaan ini sudah mulai terdampak otomatisasi. Sementara itu, non-routine interpersonal tasks memberikan premi sekitar 4,1%, dan technological tasks sekitar 3,4% setelah mengontrol heterogenitas individu; estimasi tanpa koreksi dapat menghasilkan angka bias hingga 11,8%. Temuan ini menegaskan bahwa dampak teknologi bukan sekadar “tingkatan keterampilan” seorang pekerja melainkan komposisi tugas dalam suatu pekerjaan: semakin rutin dan manual suatu tugas, semakin tinggi risiko tergantikan oleh teknologi.
Pada tingkat perusahaan, ditemukan perbedaan menarik antara adopsi teknologi dan inovasi. Industri berintensitas teknologi tinggi, seperti elektronik dan otomotif, tetap padat karya dan mempekerjakan banyak production workers (low-skill). Sebaliknya, perusahaan yang lebih inovatif, ditandai dengan keberadaan divisi R&D dan cenderung merekrut non-production workers dengan latar belakang pendidikan tinggi. Data dari survei CSIS–ADB mencatat, misalnya, hanya 6% perusahaan elektronik yang mengadopsi teknologi tinggi, tetapi 73% telah memiliki divisi R&D; sementara pada sektor otomotif, 19% perusahaan mengadopsi teknologi tinggi namun hanya 8% pekerjanya merupakan lulusan universitas. Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada pada tahap awal otomasi: teknologi mulai diadopsi, tetapi struktur industrinya tetap sangat padat karya.
Dalam sesi tanya jawab, muncul satu pertanyaan mengenai apakah adopsi teknologi tinggi di sektor manufaktur akan menurunkan rekrutmen pekerja baru. Dalam konteks kebijakan, saat ini pemerintah tengah mendorong program magang bersubsidi. Apakah adopsi teknologi akan berarti para lulusan baru akan ditempatkan untuk mengerjakan pekerjaan rutin, sehingga mereka lock in pada posisi yang akan semakin mudah digantikan oleh teknologi? Menanggapi hal ini, Teguh menjelaskan bahwa meskipun teknologi berpotensi menggantikan pekerja berkeahlian rendah, data saat ini belum memungkinkan analisis tersebut karena survei CSIS–ADB hanya dilakukan sekali dan tidak memuat informasi lama pengalaman kerja maupun new hires. Narasumber menegaskan perlunya peningkatan kualitas data ketenagakerjaan misalnya melalui modifikasi survei BPS, agar pembuat kebijakan dapat menilai apakah teknologi mempersempit peluang kerja bagi generasi muda atau justru menciptakan kesempatan baru melalui komplementaritas skill dan inovasi.
Studi ini telah diterbitkan di Bulletin of Indonesian Economic Studies (BIES): https://doi.org/10.1080/00074918.2025.2524317

Leave A Comment