FKP dengan tuan rumah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)  dengan narasumber Profesor Carunia Mulya Hamid Firdausy (BRIN), Siwage Dharma Negara (ISEAS – Yusof Ishak Institute), Yogi Vidyattama (University of Canberra), Moekti Prasetiani Soejachmoen (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement Economic Cooperation Program/IA-CEPA ECP Katalis). Kamis, 7 Desember 2023.

KEY POINTS:

  1. Kebijakan transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri berperan penting dalam peningkatan nilai ekspor Indonesia. Sejarah industri dan industrialisasi di Indonesia merupakan topik yang antara lain menjadi fokus dari almarhum Thee Kian Wie, sehingga topik  hilirisasi ini sangat relevan diambil sebagai topik dalam Thee Kian Wie Lecture. Pengembangan teknologi, termasuk lewat riset dan pengembangan ilmu pengetahuan, merupakan dua aspek industrialisasi yg dinilai penting oleh Thee Kian Wie.
  2. Industri otomotif dianggap sebagai bagian integral dari strategi hilirisasi, dan dapat berdampak positif seperti peningkatan penerimaan, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan kemajuan teknologi. Faktor-faktor kunci dalam pengembangan industri otomotif, seperti pertumbuhan ekonomi, populasi besar, dan investasi asing, turut ditekankan. Selain itu, diperlukan perbaikan sistem logistik dan manfaat dari perbedaan upah tenaga kerja dalam mendorong fragmentasi proses produksi lintas negara. Perlu juga diperhatikan dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan ekstrasi dan pengolahan sumber daya alam.

 

SUMMARY

  1. Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Isa Rachmatarwata, menyoroti kebijakan transformasi ekonomi yang tengah diterapkan, terutama hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia. Diskusi lebih lanjut mengenai kebijakan hilirisasi industri sumber daya alam dijabarkan oleh Profesor Carunia Firdausy, peneliti utama dari Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan, Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN). Prof. Carunia memulai pembahasannya dengan mengingatkan tentang kontribusi penting almarhum Thee Kian Wie terhadap kebijakan hilirisasi, khususnya dalam konteks industri sumber daya alam. Meskipun terkenal sebagai ahli sejarah ekonomi, Thee Kian Wie juga banyak membahas tentang ekonomi industri dan pembangunan. Beberapa pemikiran relevan Thee Kian Wie melibatkan konsep “lebih baik membuat daripada membeli,” serta penekanan pada strategi substitusi impor, teknologi berbasis strategi, dan ekonomi berbasis pengetahuan.
  2. Profesor Carunia mengidentifikasi beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mewujudkan hilirisasi industri saat ini. Faktor-faktor seperti kurangnya dukungan infrastruktur energi, kekurangan penelitian untuk menetapkan kebijakan hilirisasi sumber daya alam, dan ketidakpastian pasokan berdampak pada ketidakpastian tingkat pengembalian investasi. Selain itu, kebijakan hilirisasi industri sumber daya alam perlu memperhatikan keseimbangan antara pasar dan tata kelola negara.
  3. Dalam konteks hilirisasi industri, Dr. Siwage Dharma Negara dari Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) menjelaskan relevansi pemikiran Thee Kian Wie terhadap industri otomotif di Indonesia. Industri otomotif dianggap sebagai bagian integral dari kebijakan hilirisasi strategis, membawa dampak positif seperti meningkatkan penerimaan, terkait erat dengan sektor-sektor lain, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan mendorong kemajuan teknologi dan inovasi.
  4. Sejumlah faktor penting dalam mengembangkan industri otomotif melibatkan pertumbuhan ekonomi dan permintaan, populasi yang besar dan pasar yang terus berkembang, pembangunan infrastruktur, serta investasi asing dengan kerjasama manufaktur lokal. Selain itu, Moekti Prasetiani Soejachmoen, Lead Adviser di Market Access IA-CEPA ECP Katalis, menyoroti perlunya perbaikan sistem logistik, pertukaran informasi yang cepat, dan manfaat dari perbedaan upah tenaga kerja untuk mendorong fragmentasi proses produksi lintas negara.
  5. Associate Professor Yogi Vidyattama dari University of Canberra melanjutkan pembahasan dengan fokus pada industrialisasi, eksplorasi sumber daya alam, dan difusi teknologi. Penilaiannya mencakup tiga poin utama: transformasi struktural, keunggulan komparatif, dan dampak negatif yang mungkin timbul akibat sumber daya alam yang melimpah (kutukan SDA).
Download slides