FKP dengan tuan rumah LPEM FEB UI dengan narasumber Chairina Hanum Siregar (LPEM FEB UI), M. Rifqi Aufary (LPEM FEB UI), dan Putri Larasaty (Badan Pusat Statistik). Senin, 31 Mei 2021.

KEY POINTS:

  1. Hasil studi menemukan bahwa partisipasi dalam program Kartu Pra-kerja signifikan berdampak pada pengurangan kecemasan, kesedihan, dan kemarahan, namun tidak pada peningkatan kebahagiaan. Selain itu, status bekerja berkorelasi signifikan dengan kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan. Hal yang menarik adalah bekerja tidak berkorelasi signifikan dengan kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 memberikan kecemasan kepada semua orang apapun status pekerjaan mereka. 
  2. Ketimpangan kesempatan bagi penyandang disabilitas masih menjadi isu kompleks terutama dalam mengakses pendidikan dan pekerjaan. Penyandang disabilitas mempunyai kecenderungan memiliki peluang untuk mengakses layanan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang relatif lebih rendah dibandingkan bukan penyandang disabilitas. Ketimpangan akses pendidikan disebabkan oleh faktor jenis kelamin dan pengeluaran per kapita, sedangkan untuk akses pekerjaan faktornya adalah status pekerjaan kepala rumah tangga. 

 

SUMMARY

  1. Di masa pandemi, tingkat kebahagiaan orang secara umum menurun sementara kecemasan, kesedihan, dan kemarahan meningkat. Kondisi ini didorong oleh kebijakan terkait COVID-19, seperti isolasi diri dan sosial, serta penurunan pendapatan atau kehilangan pekerjaan yang dialami pekerja. Selama masa pandemi, terjadi peningkatan persentase pengangguran, dan salah satu respons pemerintah untuk mengatasi hal ini adalah dengan melaksanakan program kartu pra-kerja sebagai bantuan bagi pengangguran dan pekerja yang ingin meningkatkan keterampilannya.  Chairina Hanum Siregar dan Rifqi Aufary dari LPEM FEB UI menjelaskan tentang penelitian yang membahas dampak alokasi program Kartu Pra-Kerja terhadap kondisi kesehatan mental selama pandemi COVID-19 di Indonesia. Survey yang dilakukan oleh LPEM FEB UI tersebut mencakup 4.000 responden dari seluruh Indonesia dan dilaksanakan pada bulan Agustus – September 2020. Survei tersebut mencakup banyak aspek sosial dan ekonomi, termasuk kesehatan mental. Karena ruang lingkup penelitian dan waktu yang terbatas untuk survei, kesehatan mental diukur melalui emosi dasar seperti kebahagiaan, kemarahan, kesedihan dan kecemasan. Indikator ini diambil dari tes kesehatan mental seperti pada GAD-7 (General Anxiety Disorder) dan PHQ-9 (Patient Health Disorder).
  2. Dari hasil studi, ditemukan bahwa partisipasi dalam program Kartu Pra-kerja signifikan berdampak pada pengurangan kecemasan, kesedihan, dan kemarahan, namun tidak pada peningkatan kebahagiaan. Tidak signifikannya Program Kartu Prakerja terhadap variabel kebahagiaan kemungkinan disebabkan oleh situasi pandemi COVID-19 yang tidak pasti, dimana 49,60% responden menyatakan mengalami penurunan kebahagiaan.
  3. Di sisi lain, hasil penelitian menunjukkan bahwa bekerja berkorelasi signifikan dengan kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan. Ada beberapa manfaat dari pekerjaan, antara lain uang, aktivitas, variasi, struktur waktu, kontak sosial, dan rasa identitas. Hal yang menarik adalah bekerja tidak berkorelasi signifikan dengan kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 memberikan kecemasan kepada semua orang apapun status pekerjaan mereka. Variabel gender juga menarik, dimana gender hanya signifikan terhadap variabel kecemasan, kesedihan, dan kemarahan. Ini menunjukkan bahwa menjadi laki-laki menurunkan tingkat kecemasan, kesedihan, dan kemarahan mereka selama pandemi lebih tinggi dari perempuan.
  4. Selain itu, Program Kartu Prakerja juga ditemukan mampu menurunkan kemungkinan tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada responden yang kehilangan pekerjaan sebesar 6%, dibandingkan dengan responden lain yang tidak mendapatkan perlindungan sosial. Meskipun relatif kecil dibandingkan dengan perlindungan sosial lainnya, tetapi hal ini penting terutama bagi mereka yang kehilangan pekerjaan. Mereka akan merasa lebih aman secara finansial dan memiliki keterampilan tambahan/peningkatan keterampilan untuk mencari pekerjaan baru.
  5. Presentasi kedua dalam webinar ini dilakukan oleh Putri Larasaty (Badan Pusat Statistik) yang membahas ketimpangan kesempatan pendidikan dan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Studi ini bertujuan mengetahui ketimpangan kesempatan penyandang disabilitas terhadap akses pendidikan dan pekerjaan. Penduduk dengan disabilitas atau yang biasa disebut dengan penyandang disabilitas masih menjadi isu kompleks terutama dalam mengakses pendidikan dan pekerjaan.
  6. Rata-rata peluang akses anak penyandang disabilitas untuk mengakses pendidikan pra sekolah lebih rendah dari anak-anak yang bukan penyandang disabilitas. Hanya sekitar 47,26 persen anak penyandang disabilitas dapat mengakses pendidikan prasekolah. Faktor yang paling berperan dalam mempengaruhi anak penyandang disabilitas mengakses pendidikan pra sekolah adalah jenis kelamin anak. Faktor berikutnya adalah pengeluaran per kapita rumah tangga dan pendidikan kepala rumah tangga.
  7. Pada pendidikan dasar (SD/SMP), hanya sekitar 82,08 persen anak penyandang disabilitas dapat mengakses pendidikan dasar. Sama halnya dengan pendidikan menengah atas (SMA/SMK), rata-rata peluang akses penyandang disabilitas untuk mengakses pendidikan menengah atas jauh lebih rendah dari yang bukan penyandang disabilitas. hanya sekitar 37,23 persen penyandang disabilitas 16-18 tahun dapat mengakses pendidikan SMA/sederajat
  8. Dalam hal kesempatan kerja, ditemukan bahwa hanya sekitar 19,14 persen penduduk penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan kerja. Faktor yang paling berperan dalam memengaruhi penduduk penyandang disabilitas mengakses pekerjaan adalah status bekerja kepala rumah tangga, diikuti dengan jenis kelamin individu.
  9. Secara umum, penyandang disabilitas mempunyai kecenderungan memiliki peluang untuk mengakses layanan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang relatif lebih rendah dibandingkan bukan penyandang disabilitas. Ketimpangan akses pada penyandang disabilitas disebabkan oleh beberapa faktor, yang utama adalah faktor jenis kelamin dan pengeluaran per kapita untuk mengakses layanan pendidikan dan faktor pekerjaan kepala rumah tangga untuk akses pekerjaan.

 

Download slides (Putri Larasaty)
Download slides (Chairina Hanum)