Thee Kian Wie Lecture ke-5 dengan Pusat Penelitian Ekonomi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI). Rabu, 26 Agustus 2020.

Poin utama:

  1. Kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa pandemi utamanya disumbangkan oleh konsumsi rumah tangga yang menurun drastis. Kondisi ini akan berdampak pada kemiskinan dan ketimpangan. Perlu ada upaya dalam adaptasi kebiasaan baru (era new normal) serta pemulihan ekonomi yang bersifat inklusif dan berkelanjutan untuk dapat menjawab tantangan krisis saat ini. Pembangunan ke depan harus didukung kualitas sumber daya manusia (SDM) dan keberlanjutan lingkungan. Pandemi menjadi tantangan keberhasilan bonus demografi 2045. Infrastruktur pendukung pengembangan pendidikan SDM berupa telekomunikasi, listrik dari pembangkit listrik tenaga alternatif, dan sumber air bersih perlu utuk didorong untuk memastikan pemenuhan akses dan kebutuhan dasar untuk generasi di masa depan.
  2. Pandemi dapat menjadi momentum untuk mengoreksi kebijakan di bidang energi. Energi terbarukan yang lebih efisien dan berkelanjutan perlu didorong untuk menggantikan sumber energi konvensional. Energi terbarukan diprediksi akan lebih murah, kompetitif, dan berkelanjutan dibandingkan sumber konvensional. Selain itu energi terbarukan juga menawarkan inklusivitas dengan keterjangkauan akses serta dampak baik bagi masyarakat.

Ringkasan

  1. Pandemi COVID-19 memaksa negara-negara melakukan pembatasan sosial, yang kemudian menyebabkan kontraksi ekonomi nasional dan global khususnya dalam perdagangan/ritel serta konsumsi yang terkoreksi sangat dalam. Untuk bangkit dari situasi tersebut tidak ada solusi yang ideal sebab kondisi memaksa kita untuk mematuhi protokol kesehatan. Perlu ada upaya dalam  adaptasi kebiasaan baru (era new normal) serta mengedepankan pemulihan ekonomi yang bersifat inklusif dan berkelanjutan untuk dapat menjawab tantangan krisis yang ada saat ini.
  2. Kondisi ekonomi global masih jauh dari titik terang pemulihan. Walaupun Indonesia belum secara resmi masuk ke kondisi resesi, namun perlu diwaspadai kondisi yang ada karena semua main trading partners mengalami kontraksi yang sangat tinggi. Di Indonesia, kontraksi pertumbuhan ekonomi utamanya ada pada konsumsi rumah tangga yang turun sebesar -5,51%, utamanya pada sektor restoran dan hotel serta transportasi dan komunikasi. Sektor tersebut mempekerjakan banyak orang sehingga akan berdampak pada kemiskinan dan ketimpangan. Dalam konteks seperti saat ini pembangunan yang inklusif harus mendapat perhatian. Inklusivitas keuangan menjadi aspek penting dalam pembangunan di masa pandemi. Dengan berkembangnya financial technology, kondisi pandemi yang mensyaratkan less contact economy saat ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan inklusivitas ekonomi. 
  3. Pandemi telah mengguncang ekonomi rumah tangga dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di mana kemampuan konsumsi dan produksi menurun drastis.. Pada sisi penawaran, mayoritas UMKM mengalami penurunan penjualan lebih dari 75% yang berimplikasi pada kerentanan usaha yang tinggi. Sedangkan pada permintaan, seluruh kelas dalam rumah tangga usaha terdampak, dan untuk rumah tangga pekerja yang paling terdampak adalah kelompok pendapatan paling bawah (kurang dari 3 juta). Rumah tangga dan UMKM mengandalkan tabungan dan aset sebagai penopang kebutuhan, hal ini akan membuat pemulihan tidak bisa cepat akibat hilangnya aset dan simpanan di tengah ketidakpastian ekonomi. Ekspektasi UMKM dan rumah tangga terhadap harapan pemulihan penjualan dan pendapatan memiliki hubungan positif dengan peningkatan konsumsi sehingga pemerintah perlu untuk memberikan kepastian bagi konsumen dan produsen untuk kembali melakukan aktivitas ekonomi yang akan mendorong pertumbuhan.
  4. Langkah riset dan pembangunan ke depan adalah penanggulangan COVID-19 dan pemulihan ekonomi dengan transformasi digital, penguatan daya saing bangsa, pemecahan middle income trap, dan pemanfaatan iptek untuk mencapai inklusivitas pembangunan yang berkelanjutan. Dalam upaya tersebut, Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 telah dibentuk untuk menghasilkan produk-produk yang terkait dengan kesehatan diantaranya pengembangan produk kesehatan dan pengembangan vaksin COVID-19. Lebih lanjut, adaptasi pandemi perlu dilakukan dengan less contact economy di mana perilaku dan pola bisnis yang baru harus lebih efisien dengan ekosistem digital yang terhubung antar sektor. Permintaan global yang sedang lemah menyebabkan perlu diprioritaskannya substitusi impor dan produk lokal yang mengedepankan efisiensi dan daya saing. 
  5. Pembangunan inklusif yang berdaya saing harus didukung kualitas sumber daya manusia (SDM). Pandemi menjadi tantangan keberhasilan bonus demografi dalam mencapai cita-cita lepas landas dari middle income trap pada tahun 2045. Mereka yang lahir di sekitar tahun 2000 adalah generasi penting untuk menjadi pemimpin di tahun 2045, maka saat ini harus fokus dalam meningkatkan SDM di usia tersebut. Keadaan pembatasan sosial selama pandemi ini menyulitkan pemerataan pengembangan SDM di daerah tertinggal sehingga saat ini dalam rangka spending social safety net, perlu diperhitungkan infrastruktur pendukung pengembangan pendidikan SDM berupa telekomunikasi, listrik dari pembangkit listrik tenaga alternatif, dan sumber air bersih untuk memastikan akses dan kebutuhan dasar. (1.33.00)

Selain SDM, energi juga menjadi sektor penting dalam pembangunan yang berkelanjutan. Pandemi dapat menjadi momentum untuk mengoreksi kebijakan di bidang energi dan transportasi, memikirkan ulang sistem energi dari segi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Energi terbarukan perlu didorong untuk menggantikan sumber energi konvensional. Energi terbarukan diprediksi akan lebih murah, kompetitif, dan berkelanjutan dibandingkan sumber konvensional. Selain itu energi terbarukan juga menawarkan inklusivitas dengan keterjangkauan akses dan dampak baik di masyarakat. Salah satu sumber energi berkelanjutan yang potensial adalah blue carbon ecosystem (mangrove) yang apabila efektif akan memiliki nilai ekonomi produksi energi yang jauh lebih tinggi dari sistem lain. Ekosistem tersebut juga dapat berdampak pada masyarakat di sektor perikanan dan ecotourism, sehingga selain berkelanjutan sistem ini juga mendorong ekonomi yang inklusif khususnya pada masyarakat pesisir di Indonesia.

Download slides (Agus Eko)
Download slides (Hariyadi Sukamdani)
Download slides (Syarif Hidayat)
Download slides (Daniel Murdiyarso)